11 Jul 2021 22:35

Tanda-Tanda Sikap Ekstem dalam al-Wala’ wal Bara’ serta dalam Memboikot (Hajr)

Oleh Syaikh Abul Mundzir asy-Syinqithi

Pertanyaan ke-6314: Apa tanda-tanda ghuluw dalam al-wala’ wal baro’?

Wahai masyayikh, semoga Allah menjaga kalian. Apa tanda-tanda ghuluw dalam al-wala’ wal baro’ tentang memutus hubungan dalam Islam –tentang tidak sholat di belakang muslim–, tentang takfir dengan semata-mata muamalah dan duduk-duduk dengan orang-orang kafir.

Kami mengharapkan penjelasan karena kami sehari-hari bergesekan dengan orang-orang murtad dan sipir penjara.

Penanya: Koresponden Mimbar Tauhid Wal Jihad

Jawab:

Segala puji milik Allah, Robb seluruh alam. Sholawat dan salam semoga terlimpah pada Nabi yang mulia, semua keluarga, dan para sahabatnya.

Apabila hajer (memutus hubungan / memboikot) itu termasuk yang disyari’atkan maka termasuk hajer itu adalah tidak memberi salam, karena hadits-hadits yang menunjukkan bolehnya hajer telah mengkhususkan keumuman perintah untuk menyebarkan salam sebagaimana itu adalah pendapat jumhur ulama.

Imam Bukhori rohimahullah dalam kitab shohihnya berkata: (Bab tentang orang yang tidak mengucapkan salam pada pelaku dosa dan tidak menjawab salamnya sampai nampak jelas tobatnya dan sampai kapan nampak jelas tobatnya pelaku maksiat.)

Abdullah bin ‘Amer berkata: Janganlah kalian mengucapkan salam pada orang-orang yang minum khomer.

Bercerita kepada kami Ibnu Bukair, bercerita kepada kami Al-Laits, dari ‘Uqail, dari Ibnu Syihab, dari Abdurrahman bin Abdillah bahwa Abdullah bin Ka’ab berkata: Saya mendengar Ka’ab bin Malik bercerita ketika dia tidak ikut perang Tabuk: Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam melarang berbicara dengan kami. Aku datang pada Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan salam pada beliau. Aku berkata dalam hati: Apakah beliau menggerakkan dua bibirnya untuk menjawab salam atau tidak. Sampai sempurna 50 malam, Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam mengumumkan tentang penerimaan tobat dari Allah untuk kami ketika selesai sholat subuh. (Shohih Bukhori 8/70).

Masalah tentang menghajer muslim dengan tidak mengucapkan salam padanya atau tidak sholat di belakangnya telah dirinci oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahullah. Beliau berkata: (Hajer itu untuk mendidik disiplin yaitu menghajer orang yang menampakkan kemungkaran-kemungkaran. Dia dihajer sampai dia bertobat darinya sebagaimana Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam dan kaum muslimin menghajer tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan tobatnya) sampai Allah menurunkan penerimaan tobat untuk mereka ketika nampak dari mereka perbuatan meninggalkan jihad fardhu ‘ain tanpa ada udzur. Dan beliau tidak menghajer orang yang menampakkan kebaikan meskipun dia adalah orang munafik.

Maka di sini hajer menempati kedudukan ta’zir (memberi sangsi). Ta’zir ditujukan untuk orang yang nampak darinya perbuatan meninggalkan kewajiban-kewajiban dan melakukan hal-hal yang diharamkan seperti meninggalkan sholat dan zakat, bantu membantu dengan perbuatan-perbuatan zholim dan keji, mengajak pada bid’ah-bid’ah yang menyelisihi Al-Qur’an, sunnah, dan ijma’ salafil ummah (orang-orang terdahulu) yang nampak jelas bahwa itu bid’ah. Ini adalah hakikat ucapan ulama salaf dan para imam: Sesungguhnya orang-orang yang mengajak pada bid’ah tidak diterima kesaksian mereka, tidak sholat di belakang mereka, tidak diambil ilmu dari mereka, dan tidak dinikahkan. Ini adalah hukuman bagi mereka sampai mereka berhenti. Karena ini, mereka membedakan antara orang yang mengajak dan yang tidak mengajak, karena orang yang mengajak menampakkan kemungkaran-kemungkaran maka dia berhak untuk mendapatkan hukuman. Berbeda dengan orang yang menyembunyikan. Dia tidak lebih buruk dari orang-orang munafik yang Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam menerima zhohir mereka dan menyerahkan apa saja yang mereka sembunyikan kepada Allah meskipun beliau mengetahui keadaan banyak orang dari kalangan mereka.

Supaya dia tahu bahwa wajib berwala’ pada orang mukmin meskipun dia telah menzholimi dan menyakitimu dan wajib memusuhi orang kafir meskipun dia telah memberi dan berbuat baik padamu. Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala telah mengutus para rosul dan menurunkan kitab-kitab agar seluruh din itu milik Allah. Karena itu, cinta itu untuk wali-wali-Nya dan benci untuk musuh-musuh-Nya, memuliakan untuk wali-wali-Nya dan menghinakan untuk musuh-musuh-Nya, pahala untuk wali-wali-Nya dan siksa untuk musuh-musuh-Nya. Apabila terkumpul pada diri seseorang kebaikan dan keburukan, perbuatan dosa, taat, maksiat, sunnah, dan bid’ah maka dia berhak mendapatkan wala’ dan pahala sebatas kebaikan yang ada padanya dan berhak mendapatkan permusuhan dan hukuman sebatas keburukan yang ada padanya. Maka terkumpul dalam diri seseorang hal-hal yang mengharuskan dia dimuliakan dan dihinakan. Maka terkumpul padanya dari ini dan ini seperti pencuri miskin, dipotong tangannya karena dia mencuri dan diberi harta dari baitul maal untuk mencukupi kebutuhannya.) Majmu’ Al-Fatawa (28/204) dengan sedikit ringkasan.

Adapun mengkafirkan manusia hanya karena mereka bermuamalah dengan orang-orang kafir atau duduk-duduk dengan mereka maka ini adalah ghuluw dalam takfir karena dia mengkafirkan tanpa ada sebab perkara yang mengkafirkan.

Tentang masalah seperti ini, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahullah berkata: (Sesungguhnya termasuk aib-aibnya ahlul bid’ah adalah sebagian mereka mengkafirkan sebagian yang lain dan termasuk hal-hal yang terpuji dari ahlul ilmi adalah mereka berbuat salah dan tidak dikafirkan.)

Tetapi, jika berkenaan dengan orang-orang yang dipenjara maka muamalah mereka dengan orang-orang kafir yang memenjarakan mereka dan sikap lemah lembut dengan mereka harus sebatas apa yang sesuai dengan kebutuhan dan dibolehkan untuk mereka taqiyyah (pura-pura) dengan memenuhi syarat-syaratnya dan hendaknya mereka tidak memudah-mudahkan dalam masalah itu sehingga tidak menjadi syubhat yang menguasai mereka.

Wallahu a’lam.

Segala puji milik Allah, Robb seluruh alam.

Dijawab oleh anggota Al-Lajnah Asy-Syar’iyyah:

Syaikh Abul Mundzir Asy-Syinqithi hafizhohullah

Alih bahasa: Abu Hamzah hafizhohullah

Sabtu, 27 Jumadits Tsani 1433 H