Suatu Negeri Melihat Hilal, Apakah Wajib Seluruh Negeri Berpuasa?

11 Nov 2018 07:45
Oleh Syaikh Sulaiman bin Nashir al-‘Ulwan

Pertanyaan:
Apabila satu negeri melihat hilal, apakah wajib bagi semua kaum muslimin untuk berpuasa ataukah di setiap negeri diadakan ru'yah (melihat hilal)?

Jawaban:
Para ahli ilmu berbeda pendapat tentang hal ini dengan beberapa mazhab:

1. Mazhab pertama adalah pendapat Imam Ahmad dan ulama Malikiyyah yang masyhur di kalangan mereka bahwa apabila penduduk suatu negeri melihat hilal, maka semua penduduk negeri-negeri lain wajib mengikuti. Dengan dalil keumuman sabda beliau shalallahu 'alaihi wa salam,
ﺻﻮﻣﻮﺍ ﻟﺮﺅﻳﺘﻪ ﻓﺄﻓﻄﺮﻭﺍ ﻟﺮﺅﻳﺘﻪ
"Berpuasalah karena melihat hilal dan berbukalah karena melihat hilal."
(HR. Bukhari-Muslim)

2. Mazhab kedua bahwa setiap negeri memiliki ru'yah masing-masing. Ini adalah pendapat Ibnu ‘Abbas radhiallahu'anhuma, Qasim bin Muhammad, dan Ishaq bin Rawahah.
Dalilnya adalah yang diriwayatkan oleh Muslim di dalam Shahih-nya dari jalur Muhammad bin Abi Harmalah, dari Kuraib, bahwa Ummu Fadhl binti Harits mengutus Kuraib kepada Mu'awiyyah di Syam. Kuraib berkata, “Maka aku tiba di Syam dan telah menunaikan hajatku, maka aku pun melihat hilal Ramadhan sedang aku masih di Syam, aku melihat hilal pada malam Jum'at. Kemudian aku tiba di Madinah pada akhir bulan, maka ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiallahu 'anhuma bertanya kepadaku, kemudian ia menyebutkan tentang hilal dan berkata: Kapan kalian melihat hilal? Aku berkata: Kami melihatnya pada malam Jum'at. Beliau berkata: Apakah engkau melihatnya? Maka aku berkata: Iya, dan manusia (penduduk Syam maksudnya) juga melihatnya, maka mereka pun saum dan begitu pula Mu'awiyyah. Beliau berkata: Akan tetapi kami (di Madinah) melihat hilal pada malam Sabtu dan kami senantiasa saum sampai menyempurnakannya menjadi 30 hari. Maka aku berkata: Apakah ru'yatul hilal Mu'awiyah dan puasanya tidak mencukupi? Maka Ibnu ‘Abbas berkata,
ﻻ، ﻫﻜﺬﺍ ﺃﻣﺮﻧﺎ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ .
Tidak, beginilah Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam memerintahkan kami.”
(HR. Muslim)

Ibnu ‘Abbas radhiallahu 'anhuma tidak beramal dengan ru'yah penduduk Syam meskipun saat itu hakimnya kaum muslimin satu dan tidak pernah seorang sahabat radhiallahu'anhum menyebutkan ada yang menyelisihi pendapat Ibnu ‘Abbas radhiallahu 'anhuma. At Tirmidzi mengatakan di dalam kitab Jami'-nya, “Dan hadis ini diamalkan oleh para ahli ilmu bahwasannya di setiap negeri ada ru'yah masing-masing. Dan perkataannya radhiallahu 'anhuma, "Beginilah Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam memerintahkan kami," memungkinkan bahwa Ibnu ‘Abbas menghafalkan perkataan dari Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam bahwa penduduk suatu negeri tidak diwajibkan beramal dengan ru'yah penduduk negeri yang lain, dan kemungkinan juga itu adalah ijtihad dan pemahamannya pribadi.”

3. Pendapat ketiga bahwa apabila laporan telah sepakat akan wajibnya puasa (maka wajib), kalau tidak maka tidak wajib. Ini masyhur di kalangan fukaha Syafi'iyyah dan pendapat ini dipilih oleh Ibnu Taimiyyah.

Yang rajih dalam permasalahan ini adalah bahwasannya di setiap negeri diadakan ru'yah masing-masing.

Sumber: Fatawash Shiyyam, hal. 28-29.

Penulis: Sulaiman bin Nashir Al ‘Ulwan
Editor: Muhammad bin Yusuf Al ‘Umari

Sulaiman Al Ulwan

  • 248