Status Hukum Para Pembantu atau Pembela Tagut Zaman Sekarang

20 Dec 2019 08:12
Oleh Syaikh ‘Athiyyatullah al-Libi

Mereka yang kita sebut dengan para pembantu atau pembela tagut ini perlu untuk kita lihat kondisinya dan juga harus kita ketahui bahwa cabang-cabang dalam masalah ini sifatnya adalah ijtihadiah dan kajian!

Sebutan (para pembela tagut atau para pembantu tagut) ini hendaknya tidak mengecohkan bagi penuntut ilmu ketika ia hendak mengupas hukum syar’i, fatwa, dan keputusan hukum, tapi seorang penuntut ilmu haruslah melihat kepada hakikat yang menjadi patokan hukum syar’i-nya kemudian mendudukkan setiap hakikat itu sesuai dengan apa yang ditunjukkan oleh dalil syar’i dan jangan terkecoh dengan sekadar nama karena nama itu terkadang dibuat berdasarkan standar toleransi dan perluasan dan terkadang nama tersebut disematkan kepada suatu nilai berdasarkan berbagai macam tinjauan yang banyak sekali sebagaimana yang terjadi pada nama-nama yang disematkan kepada nilai-nilai atau benda-benda tertentu.

Hendaknya diketahui bahwasanya masalah ini seringkali dibahas dalam fikih jihad kontemporer oleh berbagai jemaah jihad, namun demikian mereka belum dapat menuntaskan kajian ini dan masih diperlukan kajian tambahan sehingga beberapa bentuk dan cabang dari permasalahan ini masih tetap menjadi bahan kajian dan ijtihad dan nampaknya, wallahu a’lam, pendapat yang kuat adalah hendaknya kita mengatakan secara umum bahwa para pembela dan pembantu tagut murtad itu adalah orang-orang kafir dan murtad sebagaimana tagutnya. Pernyataan secara umum ini tidak ada lagi masalah padanya karena banyak sekali dari Alquran dan sunah yang menunjukkan bahwa barang siapa membela orang-orang kafir (apalagi orang-orang murtad karena kekafiran pada mereka lebih khusus dan lebih kuat), membantu, dan memberikan loyalitas kepada mereka, berada dalam barisan mereka dalam memerangi kaum muslimin secara suka rela, maka dia termasuk dalam golongan mereka, dia kafir dan keluar dari Islam. Namun ketika kita berbicara mengenai masing-masing individunya, maka kita tidak boleh mengafirkan orang selain yang telah kita lihat terpenuhinya syarat-syarat vonis kafir dan tidak adanya penghalang pada dirinya sebagaimana kaidah yang telah ditetapkan dalam masalah ini.

Tentara dan seluruh aparat keamanan negara murtad dan pemerintah murtad itu adalah bagian darinya, maka dalam hukum bolehnya membunuh dan memerangi, tidak kami ragukan lagi bahwa mereka itu status hukumnya sama dengan status hukum negaranya. Artinya mereka itu adalah tentara murtad. Yang demikian itu karena tidak dapat diragukan lagi bahwa mereka itu memang benar-benar tentaranya dan karena kita memerangi negara dan pemerintah murtad tersebut karena Allah memang memerintahkan dan mewajibkannya kepada kita. Itu artinya kita harus memerangi tentara dan pasukannya yang pasti akan menyerang kita jika kita tidak menyerangnya. Kita wajib menyikapi mereka berdasarkan yang nampak, maka barang siapa berada di dalam barisan musuh yang kafir, kita akan memerangi dan membunuhnya, dan dalam hal ini kita tidak akan menanyakan tentang kondisi dirinya karena mereka adalah orang-orang yang memiliki pertahanan diri dengan kekuatan untuk tidak menjalankan sekian banyak hukum Islam yang wajib diberlakukan terhadap diri mereka. Hal ini terkandung dalam apa yang kami katakan, “Melakukan pembangkangan terhadap syariat Islam dan pemberlakuan hukum Islam.” Dengan demikian mereka adalah kelompok yang melakukan pembangkangan terhadap syariat Islam dan telah disepakati para ulama bahwa kelompok yang melakukan pembangkangan terhadap syariat Islam itu harus diperangi meskipun mereka itu muslim. Yang diperselisihkan di kalangan ulama itu hanyalah model perangnya, apakah model perang terhadap orang-orang murtad atau model perang terhadap orang-orang khawarij atau yang lainnya.

Dalil-dalil yang menunjukkan hal ini sangatlah jelas dan terkenal, insyaa Allah, dan yang benar dalam masalah ini dan pada zaman kita sekarang ini adalah kita memerangi mereka dengan model perang terhadap orang-orang murtad, namun dalam masalah memvonis kafir, kita berhati-hati dan tidak memastikan!
Hal itu dikarenakan dominannya kabut kebodohan yang menyelimuti masyarakat, rusaknya ilmu dan pemahaman, meredupnya cahaya ilmu mengenai masalah-masalah seperti ini, banyaknya manipulasi yang dilakukan para ulama pencari dunia, ulama pemerintah, dan ulama sesat yang dianggap baik oleh manyarakat, serta tercampuraduknya berbagai persoalan dan banyaknya takwilan-takwilan di tengah-tengah masyarakat karena orang-orang murtad tersebut tidaklah secara terang-terangan mengumumkan kekafirannya dalam arti mengumumkan bahwa mereka telah kafir dan meninggalkan Islam atau hal lain yang kejelasannya setara dengannya, seperti menganut agama lain secara tegas dan terang-terangan, dan mengingkari hal-hal yang telah qath’i (tegas) dan diketahui secara pasti dari ajaran Islam, namun kekafiran mereka itu pada hari ini rata-rata karena berhukum dengan selain hukum Allah dan tidak mau melaksanakan syariat Islam… karena memiliki pemikiran-pemikiran sekuler dan nasionalisme atau pemikiran-pemikiran kafir lain yang semisal dengannya… karena memberikan loyalitas kepada orang-orang kafir… dan lain-lain. Sementara itu di sisi lain mereka mengaku menganut agama Islam dan mereka mengaku malakukan perbaikan dan toleransi dan menipu masyarakat dengan berbagai sarana yang sangat sistematis dan canggih!! Seperti para ulama su’ —semoga Allah menghinakan mereka-.

Juga karena harus benar-benar terbukti bahwa masing-masing mereka (tentara) itu melakukan pembelaan terhadap tagut yang murtad tersebut, memberikan loyalitas yang bersifat kekafiran, atau loyalitas yang diberikan kepada orang murtad tersebut hanya bersifat kiasan atau merupakan dampak dari perbuatannya semata.

Oleh karenanya kami katakan bahwa kasus semacam ini kejelasannya sangatlah bervariasi sesuai dengan kondisinya masing-masing. Contoh, pada saat kondisi damai, aman, situasi tenang, dan masyarakat dengan berbagai urusannya saling berbaur, tidak sama dengan kondisi berkecamuknya perang dan berbenturannya barisan kaum muslimin dengan pasukan murtad!! Pada situasi aman terkadang kita masih mendengar orang yang mengaku bahwa dia tidak loyal dan membela orang kafir, akan tetapi ia masuk tentara negara murtad itu karena alasan lain dan bahkan ada yang mengaku bahwa dia akan bersama dengan mujahidin jika ada panggilan jihad!!! Ini satu sisi. Dari sisi lain terkadang terdapat kondisi, perkataan dan perbuatan yang mana jati diri orang murtad itu jelas dalam situasi perang, tapi tidak jelas ketika dalam situasi aman. Sedangkan dalam situasi perang alasan-alasan seperti itu tidak terdengar dan tidak akan dihiraukan lagi, tapi kita vonis mereka sebagai orang kafir setiap orang yang bersama orang-orang murtad dan berada dalam barisan mereka.

Sumber: Abu Turab Al Janubi, Pandangan Syaikh ‘Athiyatullah Tentang Status Hukum Tentara dan Polisi, (2013: Manjaniq Media, Diterjemahkan oleh: Abu Yahya), hlm. 18-21.

Penulis: 'Athiyyatullah Al Libbi
Penerjemah: Abu Yahya
Editor: Muhammad Ibn Yusuf Al 'Umar

Athiyyatullah Al Libi

  • 277