15 Jul 2021 19:54

Biografi Syaikh Muhammad Rasyid Ridha

Ulama al-Azhar, Pembaharu di zamannya, dan Penggagas Majalah al-Manar Mesir terkenal, yang berkat hidayah Allah banyak ulama menuju kepada sunnah lewat perantaranya. Beliau adalah Muhammad Rasyid ibn Ali Ridho ibn Muhammad Syamsuddin, lahir tahun 1282 H (1354 M) dan meninggal tahun 1865 H (1935 M). Salah satu murid Syaikh Muhammad Abduh yang kemudian menempuh jalan berbeda dengan gurunya di akhir hayatnya.

Sebagian orang mencelanya dan tidak memasukannya dalam kalangan ulama Salafiyyah karena sebagian pemikirannya yang dianggap menyimpang. Ini keterlaluan, melihat bagaimana situasi di zaman beliau, ketika sunnah sedang mengalami kemunduran akibat derasnya pengaruh para penjajah Eropa yang kafir. Sedangkan, jasa beliau dalam membantu tersebarnya sunnah lewat al-Manar sudah dikenal. Ini patut dihargai dan cukuplah pujian dari para ulama kepadanya sebagai timbangan yang adil.

Guru Beliau Dalam Riwayah

Dalam riwayah, beliau meriwayatkan setidaknya dari dua orang guru, yaitu Syaikh al-Musnid Abu Mahasin al-Qawuqji (w. 1305 H/ 1887 M) dan Syaikh Mahmud bin Muhammad Nasyabah at-Tharablisi (w. 1308 H/ 1890 M). Hal itu disebutkan dalam Imdad al-Fattah hal. 323.

Syaikh Abu Mahasin ini namanya Muhammad bin Khalil bin Ibrahim, musnid Syam dizamannya, yang meriwayatkan dari Muhammad bin Ahmad al-Bahiy yang meriwayatkan dari Sayyid Murtadha al-Zabidi, Sanad al-Zabidi bisa merujuk pada beberapa kitabnya, di antaranya Alfiyah Sanad, kitab ini telah dicetak oleh Penerbit Dar Ibnu Hazm dalam 198 halaman.

Abu Mahasin meriwayatkan pula secara langsung dari Muhammad Abid as-Sindi, sanad as-Sindi kepada berbagai kitab mu’tabar dapat merujuk pada tsabatnya yang terkenal yang berjudul Hashr asy-Syarid min Asanid Muhammad Abid, telah dicetak oleh Maktabah ar-Rusyid dalam 780 halaman dengan indeknya.

Adapun Syaikh Mahmud Nasyabah, beliau adalah ahli hadits Syam yang berjasa dalam memberi catatan kaki terhadap Matan al-Baiquniyah dalam ilmu hadits. Beliau meriwayatkan dari Musthafa bin Ahmad al-Maballith (w. 1284) yang meriwayatkan dari al-Amir al-Kabir, sanad al-Amir al-Kabir selanjutnya bisa merujuk pada tsabatnya yang telah dicetak dengan judul Sadd al-Arab min Ulum al-Isnad wal Adab dicetak bersama Ithaf al-Samir karya Syaikh al-Fadani.

Murid Beliau Dalam Riwayah

Dari Madrasahnya telah lahir banyak ulama yang terkenal dengan dakwahnya menyeru kembali kepada tauhid dan sunnah. Di antaranya adalah Syaikh Abdul Dhahir Abu Samah dan Syaikh Abdurrazaq Hamzah yang keduanya sebagai imam dan pengajar di Masjidil Haram. Ada juga Syaikh Muhammad Hammid al-Faqi, penggagas Majalah al-Hadi Nabawi di Mesir dan juga Ra’is Jamaah Anshor Sunnah Muham madiyyah. Tentu banyak bacaan dan penyemakan murid-muridnya ini dari Sayyid Rasyid Ridho, namun penulis tidak mengetahui apakah mereka meriwayatkan juga darinya melalui ijazah ammah ataukah tidak?!.

Adapun yang diketahui meriwayatkan dari Syaikh Muhammad Rasyid Ridho dengan ijazah ammah adalah Syaikh al-Allamah al-Muhadits Ahmad bin Muhammad Syakir rahimahullahu, pentahqiq Musnad Ahmad, sebagaimana disebutkan dalam al-Imdad hal 323, tsabat Syaikh Abdul Fatah Abu Ghadah. Maka untuk menyam bungkan sanad kepada Syaikh Muhammad Rasyid Ridho melalui jalan ini, bisa melalui beberapa murid dari murid-murid Syaikh Ahmad Syakir dalam riwayah, seperti melalui Syaikh Muhammad Ziyad Tuklah yang meriwayatkan dari tiga murid Syaikh Ahmad yaitu Syaikh Zuhair Syawisy, Syaikh Abu Turab adz-Dzahiri, dan Syaikh Abdul Fatah Abu Ghadah. Bagi penulis, ini lebih nazil sebab ia harus melewati tiga orang perowi.

Yang juga meriwayatkan dari Sayyid Muhammad Rasyid Ridho adalah al-Allamah al-Musnid Abdul Hafizh bin Muhammad Thahir al-Fasi al-Fihri sebagaimana disebutkan dalam ijazahnya untuk Syaikh al-Mu’arikh Muhmmad bin Hadi al-Manuni, lihat dalam kumpulan Ijazahnya hal 32. Syaikh Abdul Hafizh berkata, “Di antara ulama yang aku jumpai di Mesir adalah al-‘Alim al-Kabir ulama terkenal Sayyid Rasyid Ridha, pemilik kitab tafsir, al-manar, dan tulisan-tulisan masyhur. Saya mendengar darinya musalsal bil awwaliya, sebagaimana beliau juga mendengar dari saya karena permintaannya, beliau pun memunawalah kan musalsal gurunya al-Arif al-Qawuqji, dan kami pun saling memberi ijazah (mudabbaj)..”

Dan telah meriwayatkan secara ‘aliy dari Syaikh Abdul Hafizh al-Fihri guru kami Syaikh al-Mu’ammar Muhammad Bu Khubzah. Jalur ini lebih ‘aliy satu derajat dibandingkan yang pertama tadi, yakni dengan hanya melewati dua perowi saja. [as-surianji].