10 Dec 2019 21:06

Pengafiran Orang yang Meninggalkan Tauhid

Oleh Syaikh ‘Ali bin Khudhair al-Khudhair

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
“Katakanlah, “Hai orang-orang yang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kalian sembah.””
(Al Kafirun: 1-2)

Firman-Nya Subhanahu wa Ta'ala,
“Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sembahan-sembahan selain Allah yang tiada dapat memperkenankan (doa)nya sampai hari kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) doa mereka? Dan apabila manusia dikumpulkan (pada hari kiamat) niscaya sembahan-sembahan itu menjadi musuh mereka dan mengingkari pemujaan-pemujaan mereka.”
(Al Ahqaf: 5-6)

Dan firman-Nya Subhanahu wa Ta'ala,
“Dan Dia mengada-adakan sekutu-sekutu bagi Allah untuk menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya. Katakanlah, "Bersenang-senanglah dengan kekafiranmu itu sementara waktu. Sesungguhnya kamu termasuk penghuni neraka."”
(Az Zumar: 8)

Dan firman-Nya Subhanahu wa Ta'ala,
“Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia ketika mereka berkata kepada kaum mereka, "Sesungguhnya Kami berlepas diri daripada kamu dan daripada apa yang kamu sembah selain Allah. Kami ingkari (kekafiran)mu…””
(Al Mumtahanah: 4)

Dan makna meninggalkan tauhid adalah melakukan syirik karena keduanya (syirik dan tauhid) adalah dua hal yang kontradiksi yang tidak bisa bersatu dan tidak bisa kedua-duanya hilang. Siapa yang meninggalkan tauhid berarti dia telah melakukan syirik dan siapa orangnya yang melakukan syirik, maka dia itu telah meninggalkan tauhid.

Ibnul Qayyim berkata dalam Al Hadyyu, 4/204, “Bila iman itu tidak bersarang di dalam hati, maka pasti terjadi hal yang kebalikannya, yaitu kekafiran. Ini seperti ilmu dan kejahilan. Bila ilmu hilang, maka brsaranglah kejahilan. Demikianlah setiap naqidhaan (dua hal yang kontradiksi), bila salah satunya hilang pasti digantikan oleh lawannya.”

Syaikh 'Abdurrahman dalam syarah-nya dan anaknya Syaikh 'Abdullathif rahimahumallah dalam kitab Al Minhaj halaman 12, keduanya berkata, “Siapa yang melakukan syirik, maka dia itu telah meninggalkan tauhid karena keduanya adalah dhiddan yang tidak bisa bertemu dan naqidhan yang tidak bisa bertemu dan tidak bisa terangkat (kedua-duanya) bit tasharruf.”

Syaikh ‘Abdurrahman rahimahullah (cucu Syaikh) berkata, “Tidak tegak ketauhidan ahli tauhid, kecuali dengan mennjauhi pelaku-pelaku syirik, memusuhinya, dan mengafirkannya.”
(Ad Durar, 11/434)

Beliau rahimahullah berkata lagi dalam syarah-nya, “Ini berdasarkan atas apa yang telah anda ketahui bahwa tauhid itu menuntut akan penafian syirik, bara'ah (berlepas diri) darinya, memusuhi pelaku-pelakunya, dan mengafirkan mereka itu saat hujjah telah tegak atas mereka.”

Beliau berkata lagi dalam syarah-nya ketika menjelaskan salah satu macam orang yang menyelisihi tauhid, beliau berkata, “Dan macam orang ini tidak mendatangkan tuntutan makna yang dikandung oleh Laa Ilaaha Illallaah, berupa menafikan syirik dan konsekwensinya berupa pengafiran orang yang melakukan syirik setelah ada bayan (penjelasan) secara ijmak.”

Kemudian beliau berkata, “Sedangkan orang yang tidak mengafirkan orang yang telah dikafirkan oleh Alquran, maka dia itu sungguh telah menyalahi apa yang di bawa oleh para Rasul berupa tauhid dan konsekuensinya.”

Sebagian ulama Najd mengatakan tentang orang yang tidak mengafirkan orang-orang musyrik, mereka mengatakan, ”Sesungguhnya dia itu kafir seperti mereka karena sesungguhnya orang yang tidak mau mengafirkan orang-orang musyrik berarti dia itu tidak membenarkan Alquran, sedangkan Alquran telah mengafirkan orang-orang musyrik dan memerintahkan agar mengafirkan mereka, memusuhinya, serta memeranginya.”
(Fatwa Al Aimmah An Najdiyyah, 3/77)

Masalah Kontemporer:

Seperti penjelasan (wajibnya mengafirkan orang yang meninggalkan tauhid) itu pada masa sekarang: Orang yang meninggalkan tauhid (masuk) ke sekularisme, atau ke komunisme, atau ke qaumiyyah, atau ke paham syu'ubiyyah masa sekarang, atau ke paham Ba'atsiyyah, atau ke kapitalisme, atau ke paham demokrasi, atau ke qawanin wadhiyyah (hukum-hukum buatan), atau ke globalisasi yang kafir, atau ke agama Rafidhah, atau ke Shufiyyah pengagung kuburan, atau agama-agama atau paham-paham modern lainnya dan diyakini sebagai suatu ajaran (pegangan).

Siapa orangnya yang seperti itu, maka dia itu dinamakan kafir. Penjelasannya lebih lanjut akan kami kemukakan insyaa Allah dalam bab mengafirkan orang yang melakukannya (syirik).

Sumber: Asy Syaikh Al ‘Allamah
Ali Bin Khudlair Al Khudlair, Bahasan Tuntas Ashlu Dinil Islam (Tauhid & Risalah), (Tauhid Dan Jihad, Diterjemahkan oleh: Abu Sulaiman Aman Abdurrahman), hlm. 21-25, dengan perubahan.

Penulis: ‘Ali Ibn Khudhair Al Khudhair
Penerjemah: Abu Sulaiman Al Arkhabili
Editor: Muhammad Ibn Yusuf Al 'Umari