15 Dec 2019 06:37

Pangkal Kesesatan Khawarij Kontemporer: Udzur bil Jahl, Takfir Berantai, dan Beda Kufur dengan Syirik

Oleh Syaikh ‘Athiyyatullah al-Libi

Mengetahui bahwa pokok-pokok (pangkal) kesesatan kaum yang melesat keluar dari Islam tersebut adalah mereka tidak membeda-bedakan antara tingkatan-tingkatan perkara-perkara dan tingkatan-tingkatan dalil-dalil.

Meskipun mereka mengklaim tidak begitu, namun realita secara tegas mendustakan klaim mereka tersebut. Mereka memposisikan perkara-perkara yang zhanni kepada posisi perkara-perkara yang qath’i, seperti yang telah disebutkan oleh para ulama kita tentang keadaan orang-orang Khawarij.

Kalian akan melihat bagaimana mereka menamakan cara-cara berdalil mereka yang satu sama lain saling tumbang itu dengan nama-nama “perkara-perkara qath’i”, “dalil-dalil qath’i”, dan lain sebagainya!

Kalian akan melihat bagaimana Abu Maryam Al Mukhlif yang terkena ujian tersebut secara dusta dan palsu menyebutkan ijmak dalam banyak perkara.

Kalian akan melihat bagaimana mereka sangat jauh dari kebiasaan ulama generasi salaf yang mengatakan, “Kami berpendapat begini,” “menurut kami begini,” “kami menganggap,” “kami khawatir,” “kami senang begini,” dan “kami tidak senang begini.” Sampai-sampai sebagian ulama salaf seperti Imam Malik menyitir firman Allah berikut ini saat ia ditanya tentang sebagian perkara,
إِنْ نَظُنُّ إِلا ظَنًّا وَمَا نَحْنُ بِمُسْتَيْقِنِينَ
“Kami sekali-kali tidak lain hanyalah menduga-duga saja dan kami sekali-kali tidak yakin.”
(QS. Al Jatsiyyah [45]: 32)

Orang-orang yang terkena ujian dan tersesat itu akan menjawab kepada kalian, “Zhann (dugaan-dugaan) itu hanya dalam perkara-perkara cabang fikih dan cabang-cabang hukum syariat yang sifatnya ijtihad.”

Memang benar. Tapi juga benar bahwa sesungguhnya banyak perkara yang dijadikan landasan pemikiran oleh Abu Maryam Al Mukhlif dan para pengikutnya yang tersesat tersebut hanyalah perkara-perkara fikih, cabang, dan ijtihad.

a. Pangkalnya adalah induk perkara yang mereka pegang teguh —seperti para pendahulu mereka, Jemaah Pengafiran dan Hijrah (Jama’ah Takfir wal Hijrah) dan orang-orang Khawarij kontemporer selalunya memulai pemikiran mereka dari perkara ini- yaitu perkara udzur bil jahl. Ini adalah perkara fikih yang menjadi kajian seorang ulama fikih, namun mereka menjadikan perkara ini sebagai perkara ushuluddin wal i’tiqad dan perkara-perkara tauhid yang bersifat qath’i.

b. Demikian juga perkara, “Barang siapa tidak mengafirkan orang kafir atau ragu-ragu akan kekafiran orang kafir, maka ia telah kafir,” maksud saya adalah penerapan-penerapan kaidah ini dan penerapan cabang-cabang perincian kaidah ini dalam realita.

c. Demikian juga perkara apakah syirik dan kufur itu satu perkara yang sama ataukah keduanya berbeda dan apa perbedaannya?

Dan perkara-perkara lainnya yang mayoritasnya adalah perkara-perkara fikih termasuk masalah hukum-hukum syar’i, di mana orang yang tahu akan mengetahuinya dan orang yang tidak tahu tidak akan mengetahuinya, sementara pengetahuan dan penelitian masyarakat terhadap perkara-perkara tersebut bertingkat-tingkat.

Dan perkara-perkara lainnya yang merupakan perkara-perkara ijtihad, para ulama dari zaman dahulu sampai zaman sekarang masih berbeda pendapat tentangnya atau berbeda dalam menerapkannya atas peristiwa-peristiwa dan individu-individu. Namun hal itu tidak mengharuskan terjadinya perpecahan, permusuhan dan kebencian. Justru hati para ulama tersebut tetap bersih, lapang dada dan saling mencintai, sebagian mereka memaafkan sebagian lainnya.

Hanya orang-orang bodoh yang tersesat yang merasa sesak hatinya terhadap orang-orang yang berbeda pendapat dengan mereka dalam perkara-perkara yang mereka klaim sebagai “perkara-perkara qath’i” fiktif tersebut. Mereka itulah yang berkawan, memusuhi, memvonis sesat, dan memvonis kafir atas dasar hawa nafsu mereka yang sesat dan hasil pikiran akal mereka yang menyimpang.

Kelelawar dibutakan oleh surya di siang bolong
Cocok dengan bagian-bagian malam yang gelap gulita

Jika orang yang menginginkan kebaikan dan mencari kebenaran serta rida Allah Ta’ala memperhatikan secara seksama kesesatan kelompok tersebut, niscaya ia dengan jelas akan mendapati kesesatan mereka dibangun di atas sekumpulan perkara, yang paling penting adalah tiga perkara yang kita sebutkan di atas.

Sumber: Syaikh Abu Abdurrahman Jamal bin Ibrahim as-Syitwi al-Misrati (Athiyatullah al-Libi), Jawabu Sual fi Jihad ad-Daf’i, (1434 H: Dar al-Jabhah, Al-Jabhah al-I’lamiyah al-Islamiyah al-‘AIamiyah (Global Islamic Media Front), dan  Mimbar at-Tauhid wa al-Jihad), hlm. 48-50.

Penulis: 'Athiyyatullah Al Libbi
Editor: Muhammad Ibn Yusuf Al 'Umar