19 Dec 2019 16:17

Kapan dan di Mana Jihad Defensif

Oleh Syaikh ‘Athiyyatullah al-Libi

Jika keadaannya memang tidak demikian, maka kami tanyakan kepada si penanya yang mendebat ini. Apa sebenarnya jihad defensif itu, kapan ia terjadi dan di mana ia terjadi?

Andaikata ada sebuah negeri yang penduduknya adalah kaum muslimin, mereka diperintah oleh seorang penguasa muslim yang menegakkan kitab Allah dan sunah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa salam (negeri Islam) di ujung dunia yang jauh dari negeri-negeri kaum muslimin lainnya, kemudian terjadi kudeta militer dan politik, pemerintahan dipegang oleh orang-orang zindik yang melakukan kekafiran dan kemurtadan dari Islam secara terang-terangan serta meninggalkan salat, lalu mereka didukung oleh para komandan tentara sehingga mereka bisa menguasai negeri tersebut dalam beberapa hari saja, lalu mereka mengganti syariat Islam di negeri tersebut dengan undang-undang positif yang mereka tetapkan sendiri dan mereka memaksa rakyat untuk menaatinya…. lantas apakah kewajiban kaum muslimin penduduk negeri tersebut saat ini?

Jawaban yang tidak ada jawaban selainnya menurut seluruh ulama Islam adalah kaum muslimin penduduk negeri tersebut wajib untuk berjihad melawan penguasa kafir tersebut, keluar dari ketaatan kepadanya, memberontaknya dengan senjata dan perang, guna menggulingkannya, menyingkirkannya dari kursi kekuasaan, dan menggantikannya dengan seorang pemimpin yang melaksanakan kitab Allah dan sunah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa salam. Inilah kewajiban mereka menurut kesepakatan ulama.

Kewajiban ini hanya gugur atas mereka apabila mereka lemah. Jika mereka lemah, memandang tidak mampu dan lemah sekali untuk melawan penguasa yang kafir ini, negaranya, dan tentara, dan bahwa mereka pasti akan kalah dan mati jika menerjuni kancah peperangan melawan penguasa kafir ini. Intinya, mereka memiliki perkiraan kuat atau mereka yakin tidak mampu, maka dalam kondisi tersebut kewajiban mereka adalah mempersiapkan kekuatan untuk berjihad sehingga mereka mencapai taraf kuat dan mampu untuk berjihad melawan penguasa yang kafir ini. Selama proses tersebut mereka wajib membela diri sesuai kemampuan mereka dengan cara dakwah, amar ma’ruf, nahyu munkar, dan setiap program lainnya yang disyariatkan guna mencapai tujuan penegakan syariat Allah Ta’ala dan pelengseran pemerintahan orang-orang kafir.

Apakah Abu Maryam Al Mukhlif dan para pengikutnya bisa menerima perkara ini? Jika mereka tidak bisa menerimanya, maka mereka telah keluar dari ijmak seluruh ulama, mengikuti selain jalan orang-orang yang beriman, menyelisihi nash-nash Alquran dan sunah serta tersesat dengan kesesatan yang jauh.

Jika mereka bisa menerimanya, maka hujah telah tegak atas diri mereka dan kebatilan mereka telah terpatahkan sebab negeri yang telah berubah menjadi negeri kafir dan negeri perang tersebut —menurut pendapat yang paling benar di kalangan ulama- dikarenakan orang-orang kafir menguasai negeri tersebut dan hukum-hukum kekafiran diterapkan di negeri tersebut, penduduk negeri tersebut wajib berjihad atau minimalnya jihad bagi mereka disyariatkan menurut kesepakatan ulama. Tiada seorang ulama pun yang menyelisihi hukum ini, seperti yang telah kami jelaskan.

Jika mereka melaksanakan kewajiban tersebut, lantas jihad apakah ia selain jihad defensif? Menurut klasifikasi istilah ilmu fikih sebab ia adalah jihad untuk menolak orang kafir yang menyerang agama, harta, kehormatan, dan tanah air. Jika Anda ingin menamakannya jihad ofensif, silahkan saja, tidak masalah!!

Namun Anda jangan menerapkan atas jihad tersebut hukum-hukum selain hukum-hukum yang berkaitan dengan jihad defensif. Di antara ketentuannya yang terbesar adalah hukum jihad tersebut wajib ain atas setiap penduduk negeri tersebut, berbeda halnya dengan jihad ofensif yang dikenal dalam istilah para ulama fikih. Jadi para akhirnya, wahai manusia, ini hanyalah masalah istilah belaka! Hal yang penting adalah ia merupakan jihad yang disyariatkan, bahkan jihad yang hukumnya wajib jika ada kemampuan dan orang yang tidak melakukannya padahal ia tidak memiliki uzur dinilai sebagai orang fasik, gugur nilai “keadilannya”, dan ia berhak dihukum.

Maka perhatikanlah contoh ini agar engkau mengetahui seberapa jauh Abu Maryam Al Mukhlif dan pengikutnya terpedaya oleh istilah-istilah dan jauhnya mereka dari kajian yang mendalam dan ilmu yang bermanfaat. Allah memberi petunjuk siapa yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.

Ketahuilah bahwa hakekat pendapat mereka —seperti yang ditegaskan sendiri oleh Abu Maryam Al Mukhlif- bahwasanya disyariatkannya jihad itu harus memenuhi persyaratan adanya nsgeri Islam yang darinya jihad dan mujahidin berangkat.

Inilah pendapat mereka, bahwa syarat disyariatkannya jihad adalah adanya negeri Islam yang mantap yang darinya jihad dimulai. Pendapat ini merupakan kebatilan dan kedustaan terhadap Allah, rasul-Nya, dan agama-Nya sebab pendapat ini tidak memiliki dalil, bukti nyata, dan keterangan yang nyata dari Allah Ta’ala. Pendapat seperti ini belum pernah dikatakan oleh seorang pun dari ulama ahli sunah sepanjang sejarah Islam, menurut pengetahuan kami. Pendapat ini sejatinya adalah pendapat kaum Rafidhah —semoga Allah menghinakan mereka- yang menyatakan tidak ada jihad, kecuali bersama seorang imam, yaitu imam yang maksum (terpelihara dari kesalahan dan dosa). Sampai akhirnya datang Khomeini yang merumuskan untuk mereka teori wilayatul faqih sebagai wakil dari imam yang gaib (bersembunyi) agar ia bisa mengeluarkan orang-orang Rafidhah dari pendapat fikih yang menjepit mereka sepanjang sejarah tersebut!

Gambaran lainnya yang menyerupai apa yang telah kami sebutkan di atas yang menjelaskan kerusakan dan kesesatan pendapat ini adalah,

• Seandainya ada sebuah negeri milik kaum muslimin diperintah dengan Islam, diterapkan padanya syariat Islam, dan dikuasai oleh kekuasaan Islam, lalu musuh Islam mengerahkan pasukan dan kekuatannya untuk menyerang negeri tersebut dan menjajah penduduknya; maka jihad penduduk negeri tersebut untuk membebaskan petakan pertama dari bumi Islam yang diinjak-injak oleh pasukan musuh Islam adalah termasuk jihad defensif, bahkan menurut pendapat Abu Maryam Al Mukhlif yang sesat sekalipun.

• Jika pasukan musuh Islam menaklukkan negeri tersebut dan membentangkan kekuasaannya di negeri tersebut, maka konsekuensi dari pendapat Abu Maryam Al Mukhlif dan para pengikutnya adalah kondisi langsung berubah, status negeri tersebut dalam sekejap mata telah berganti dan jihad sejak pertama kali pasukan musuh menduduki dan menguasai negeri tersebut adalah tidak disyariatkan sebab negeri tersebut tidak dianggap lagi sebagai negeri Islam yang wajib dibela setelah kekuasaan dan pemerintahan berada di tangan pasukan kafir yang meraih kemenangan.

Maka apakah orang yang masih berakal sehat dan memahami apa yang diucapkannya akan berpendapat seperti itu? Ataukah pendapat seperti itu tak lain hanyalah bisikan setan dan syubhat Iblis yang bertujuan untuk menggugurkan kewajiban jihad yang makna-makna dan hakikat-hakikatnya mulai kembali bersemi dalam jiwa umat Islam???

Maka hendaklah orang yang berakal sehat merenungkan hal ini, dan hanya Allah Ta’ala Yang dapat memberi petunjuk.

Sumber: Syaikh Abu Abdurrahman Jamal bin Ibrahim as-Syitwi al-Misrati (Athiyatullah al-Libi), Jawabu Sual fi Jihad ad-Daf’i, (1434 H: Dar al-Jabhah, Al-Jabhah al-I’lamiyah al-Islamiyah al-‘AIamiyah (Global Islamic Media Front), dan  Mimbar at-Tauhid wa al-Jihad).

Penulis: 'Athiyyatullah Al Libbi
Editor: Muhammad Ibn Yusuf Al 'Umar