15 Dec 2019 06:22

Jalan Sesat Khawarij Dibangun atas Sikap Ekstrem

Oleh Syaikh ‘Athiyyatullah al-Libi

Memahami sepenuhnya bahwa mereka, kaum Khawarij yang terkena ujian dan kesesatan —semoga Allah melindungi kami dan kalian dari keadaan dan jalan mereka-  jalan sesat mereka dibangun di atas dasar bersikap ekstrem dalam beragama, terlalu berlebih-lebihan yang dicela oleh syariat dan diperingatkan serta dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya, serta at tanathu’. Tanathu’ seperti yang telah dijelaskan di depan, maknanya adalah bersikap terlalu keras, “terlalu mendalami” yang tercela, terlalu memaksakan diri, dan tidak merasa cukup dengan apa yang Allah mudahkan dan Allah longgarkan berupa kemudahan dan karunia.

Justru orang mencari hal yang paling keras, paling sulit, dan paling berat, dengan mengira ia memiliki kemampuan yang tidak dimiliki oleh seluruh manusia lainnya. Biasanya di belakang tindakan ekstrem tersebut terdapat ambisi yang tersembunyi untuk “tampil beda” dari masyarakat dan ingin mengungguli orang-orang yang selevel dengan dirinya.
Semua tindakan tersebut jelas menyelisihi sunah, petunjuk, jalan hidup, dan akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Imam Bukhari meriwayatkan dalam sahihnya, pada kitab para nabi, bab sifat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Imam Bukhari kemudian menyebutkan sejumlah hadis, di antaranya hadis dari 'Aisyah radhiallahu ‘anha yang berkata,
«مَا خُيِّرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ أَمْرَيْنِ إِلَّا أَخَذَ أَيْسَرَهُمَا، مَا لَمْ يَكُنْ إِثْمًا، فَإِنْ كَانَ إِثْمًا كَانَ أَبْعَدَ النَّاسِ مِنْهُ، وَمَا انْتَقَمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِنَفْسِهِ إِلَّا أَنْ تُنْتَهَكَ حُرْمَةُ اللَّهِ، فَيَنْتَقِمَ لِلَّهِ بِهَا»
”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah diminta memilih antara dua perkara, kecuali beliau akan memilih perkara yang lebih mudah selama perkara tersebut bukan suatu perbuatan dosa. Jika perkara tersebut adalah perbuatan dosa, maka beliau adalah orang yang paling menjauhinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga tidak pernah membalas untuk diri mereka sendiri, kecuali jika hal-hal yang diharamkan Allah telah diinjak-injak, maka beliau akan membalas karena Allah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Sumber: Syaikh Abu Abdurrahman Jamal bin Ibrahim as-Syitwi al-Misrati (Athiyatullah al-Libi), Jawabu Sual fi Jihad ad-Daf’i, (1434 H: Dar al-Jabhah, Al-Jabhah al-I’lamiyah al-Islamiyah al-‘AIamiyah (Global Islamic Media Front), dan  Mimbar at-Tauhid wa al-Jihad), hlm. 47-48.

Penulis: 'Athiyyatullah Al Libbi
Editor: Muhammad Ibn Yusuf Al 'Umar