Hukum Merayakan Hari Raya Natal dan Tahun Baru

24 Dec 2020 00:11
Oleh Syaikh ash-Shadiq bin ‘Abdillah al-Hasyimi

Merayakan hari raya kaum kafir, yaitu hari raya natal dan tahun baru, berarti merayakan penistaan terhadap Allah Subhanahu wa Ta‘ala, mencela-Nya, serta mendustakan-Nya.

Ini adalah kufur akbar dan merupakan dosa yang tidak diampuni.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَقَالُوا۟ ٱتَّخَذَ ٱلرَّحۡمَـٰنُ وَلَدࣰا ۝ لَّقَدۡ جِئۡتُمۡ شَیۡـًٔا إِدࣰّا ۝ تَكَادُ ٱلسَّمَـٰوَ ٰ⁠تُ یَتَفَطَّرۡنَ مِنۡهُ وَتَنشَقُّ ٱلۡأَرۡضُ وَتَخِرُّ ٱلۡجِبَالُ هَدًّا ۝ أَن دَعَوۡا۟ لِلرَّحۡمَـٰنِ وَلَدࣰا ۝ وَمَا یَنۢبَغِی لِلرَّحۡمَـٰنِ أَن یَتَّخِذَ وَلَدًا ۝ إِن كُلُّ مَن فِی ٱلسَّمَـٰوَ ٰ⁠تِ وَٱلۡأَرۡضِ إِلَّاۤ ءَاتِی ٱلرَّحۡمَـٰنِ عَبۡدࣰا

“Dan mereka berkata: ‘Yang Maha Pengasih mengambil (mempunyai) anak.’ Sungguh kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat munkar, hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, bumi terbelah, dan gunung-gunung runtuh, karena mereka mendakwa Allah Yang Maha Pengasih mempunyai anak. Dan tidak layak bagi Yang Maha Pengasih mengambil (mempunyai) anak. Tidak seorang pun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Yang Maha Pengasih selaku seorang hamba.” [QS. Maryam: 88-93]

Allahu Subhanahu wa Ta‘ala juga berfirman,

بَدِیعُ ٱلسَّمَـٰوَ ٰ⁠تِ وَٱلۡأَرۡضِۖ أَنَّىٰ یَكُونُ لَهُۥ وَلَدࣱ وَلَمۡ تَكُن لَّهُۥ صَـٰحِبَةࣱۖ وَخَلَقَ كُلَّ شَیۡءࣲۖ وَهُوَ بِكُلِّ شَیۡءٍ عَلِیمࣱ

“Dia Pencipta langit dan bumi. Bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai istri. Dia menciptakan segala sesuatu dan Dia mengetahui segala sesuatu.” [QS. al-An’am: 101]

Allah Subhanahu wa Ta‘ala juga berfirman,

لَقَدۡ كَفَرَ ٱلَّذِینَ قَالُوۤا۟ إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡمَسِیحُ ٱبۡنُ مَرۡیَمَۖ وَقَالَ ٱلۡمَسِیحُ یَـٰبَنِیۤ إِسۡرَ ٰ⁠ۤءِیلَ ٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ رَبِّی وَرَبَّكُمۡۖ إِنَّهُۥ مَن یُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدۡ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَیۡهِ ٱلۡجَنَّةَ وَمَأۡوَىٰهُ ٱلنَّارُۖ وَمَا لِلظَّـٰلِمِینَ مِنۡ أَنصَارࣲ

“Sungguh telah kafir orang-orang yang berkata, ‘Sesungguhnya Allah itu dialah al-Masih putra Maryam.’ Padahal al-Masih sendiri berkata, ‘Wahai Bani Israil! Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu.’ Sesungguhnya barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh Allah mengharamkan surga baginya dan tempatnya ialah neraka serta tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang zalim itu.” [QS. al-Maidah: 72]

Allah Subhanahu wa Ta‘ala juga berfirman,

لَّقَدۡ كَفَرَ ٱلَّذِینَ قَالُوۤا۟ إِنَّ ٱللَّهَ ثَالِثُ ثَلَـٰثَةࣲۘ وَمَا مِنۡ إِلَـٰهٍ إِلَّاۤ إِلَـٰهࣱ وَ ٰ⁠حِدࣱۚ وَإِن لَّمۡ یَنتَهُوا۟ عَمَّا یَقُولُونَ لَیَمَسَّنَّ ٱلَّذِینَ كَفَرُوا۟ مِنۡهُمۡ عَذَابٌ أَلِیمٌ

“Sungguh telah kafir orang-orang yang mengatakan, bahwa Allah adalah salah satu dari yang tiga, padahal tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa azab yang pedih.” [QS. al-Maidah: 73]

Sumber: https://t.me/alhekmahwalather/5080

Penulis: Abu ‘Abdillah ash-Shadiq bin ‘Abdillah al-Hasyimi as-Sudani
Penerjemah: M. Febby Angga

Ash Shadiq Al Hasyimi

  • 47