27 Jul 2021 13:45

Hukum Menggerak-Gerakkan Jari ketika Tasyahud dalam Shalat


Oleh Syaikh Dr. Khalid bin Mahmud al-Hayyik

Seorang ikhwah menanyaiku tentang masalah hukum menggerak-gerakkan jari telunjuk ketika tasyahud dalam shalat, maka inilah jawabanku.

Hadis tentang menggerak-gerakkan jari telunjuk diriwayatkan oleh Zaidah bin Qudamah, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami, ‘Ashim bin Kulaib, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku, ayahku: Bahwasanya Wail bin Hujr berkata,

ﻟَﺄَﻧْﻈُﺮَﻥَّ ﺇِﻟَﻰ ﺻَﻠَﺎﺓِ ﺭَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻛَﻴْﻒَ ﻳُﺼَﻠِّﻲ ﻓَﻨَﻈَﺮْﺕُ ﺇِﻟَﻴْﻪِ 

“Aku hendak melihat tata cara shalat Rasulullah shalallahu ‘alaihi was sallam, maka aku melihat beliau shallallahu 'alaihi was salam shalat.”

Kemudian ia (Wail bin Hujr) menyifatinya dengan berkata, 

ﻗَﻌَﺪَ ﻭَﺍﻓْﺘَﺮَﺵَ ﺭِﺟْﻠَﻪُ ﺍﻟْﻴُﺴْﺮَﻯ ﻭَﻭَﺿَﻊَ ﻛَﻔَّﻪُ ﺍﻟْﻴُﺴْﺮَﻯ ﻋَﻠَﻰ ﻓَﺨِﺬِﻩِ ﻭَﺭُﻛْﺒَﺘِﻪِ ﺍﻟْﻴُﺴْﺮَﻯ ﻭَﺟَﻌَﻞَ ﺣَﺪَّ ﻣِﺮْﻓَﻘِﻪِ ﺍﻟْﺄَﻳْﻤَﻦِ ﻋَﻠَﻰ ﻓَﺨِﺬِﻩِ ﺍﻟْﻴُﻤْﻨَﻰ ﺛُﻢَّ ﻗَﺒَﺾَ ﺍﺛْﻨَﺘَﻴْﻦِ ﻣِﻦْ ﺃَﺻَﺎﺑِﻌِﻪِ ﻭَﺣَﻠَّﻖَ ﺣَﻠْﻘَﺔً ﺛُﻢَّ ﺭَﻓَﻊَ ﺃُﺻْﺒُﻌَﻪُ ﻓَﺮَﺃَﻳْﺘُﻪُ ﻳُﺤَﺮِّﻛُﻬَﺎ ﻳَﺪْﻋُﻮ ﺑِﻬَﺎ

“Beliau duduk di atas kaki kiri serta meletakkan telapak tangan kiri di atas paha dan lutut bagian kiri, lalu beliau shalallahu 'alaihi was sallam meletakkan siku lengan kanan di atas paha kanan, lalu menggenggam dua jari sehingga menjadi melingkar, kemudian beliau mengangkat telunjuknya. Aku melihat beliau mengerak-gerakannya dan berdoa dengannya.”

Perkataan, “Aku melihat beliau mengerak-gerakannya dan berdoa dengannya,” merupakan tambahan yang syadz yang mana Zaidah bin Qudamah hanya sendirian dalam meriwayatkannya dan menyelisihi kelompok besar dari orang-orang yang meriwayatkan dari ‘Ashim bin Kulaib. Mereka adalah Sufyan bin ‘Uyainah, Khalid al-Wasithi, Qais ar-Rabi', Salam bin Sulaim, Sufyan ats-Tsauri, Syu'bah, Bisyr bin al-Mufadhdhal, ‘Abdullah bin Idris, Abu ‘Awanah, ‘Abdul Wahid bin Zaid al-‘Abdi, Zuhair bin Mu‘awiyyah, Muhammad bin Fudhail, ‘Anbasah bin Said al-Asadi, Ghailan bin Jami‘, dan  Musa bin Abi Katsir. Mereka tidak menyebutkannya, padahal mereka adalah rawi yang paling terpercaya. Mereka malah meriwayatkan perkataan, “Dan beliau memberi isyarat dengan jari telunjuknya.” 

Jadi yang sunah adalah mengangkat jari telunjuk tanpa menggerak-gerakkannya.

Adapun al-Albani telah berpendapat dengan pendapat yang syadz dalam menyunahkan menggerak-gerakkan jari telunjuk berdasarkan pen-shahih-annya terhadap riwayat Zaidah. Sebagaimana ia juga telah berpendapat dengan pendapat yang syadz dalam men-shahih-kan tambahan, “Wa barakatuh,” ketika salam dalam shalat. Salam dalam shalat yang sesuai sunnah  adalah, “As-Salamu ‘alaikum wa rahmatullah,” tanpa menambahkan, “wa barakatuh.”

Penulis: Syaikh Dr. Khalid bin Mahmud al-Hayyik hafizhahullah
Penerjemah: Akh Hudzaifah al-Jawi ghafarallahu la hu