Hukum Memaksa Tafsir Al Qur'an dengan Sains

28 Nov 2018 08:36
Oleh Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman al-Jibrin

Pertanyaan:
Sebuah surat kabar memuat artikel mengenai penafsiran Al Qur’an dengan sains. Penulis artikel menyerukan untuk tidak memaksakan ayat Al Qur’an untuk dimasukkan ke dalam teori iptek modern karena teori iptek itu berubah-ubah. Seiring berkembangnya zaman akan muncul teori yang dinilai lebih akurat. Ketika kita tafsirkan Al Qur’an dengan teori ilmiah lalu terbukti bahwa teori tersebut keliru, maka masyarakat awam akan beranggapan bahwa Al Qur’an ternyata juga keliru. Apa pandangan Anda tentang topik ini?

Jawaban:
Allah telah menurunkan Al Qur’an dengan bahasa 'Arab yang gamblang. Nabi pun telah menjelaskan maksud Al Qur’an karena melaksanakan perintah Allah dalam firman-Nya,
وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ
“Dan telah kami turunkan kepadamu Al Qur’an supaya engkau menjelaskan kepada manusia apa yang diturunkan untuk mereka.”
(QS An Nahl: 44)

Para sahabat pun paham isi Al Qur’an karena Al Qur’an turun dengan menggunakan bahasa mereka. Jika mereka mempelajari sepuluh ayat mereka akan mempelajari ilmu dan amal yang terkandung di dalamnya. Mereka pun memahami ayat-ayat Al Qur’an sebagaimana makna yang dimaksudkan di zaman itu atau yang dimaksudkan sepanjang zaman.

Baru di zaman ini muncul orang-orang modernis. Mereka ini menundukkan Al Qur’an agar sesuai dengan berbagai silih bergantinya peristiwa sepanjang zaman atau sesuai dengan temuan-temuan teknologi yang terkini.

Mereka memaksakan diri untuk menyesuaikan ayat dengan pemahaman mereka padahal itu adalah pemaham yang sangat jauh dari maksud ayat. Pemaksaan ayat semacam ini banyak dijumpai dijumpai dalam buku-buku tafsir yang ditulis oleh orang saat ini semisal Tafsir Ath Thahthawi dan Sayyid Quthb.

Syaikh Mahmud At Tuwaijiri telah membantah banyak dari penafsiran model ini dalam bantahan beliau untuk Tafsir Ath Thahthawi karena penafsiran dengan model seperti itu termasuk berbicara tentang ayat Allah tanpa ilmu. Dalam sebuah hadis disebutkan, “Barang siapa yang berbicara tentang Al Qur’an dengan semata-mata pendapatnya, maka hendaknya dia tinggal di neraka.” Lalu Syaikh 'Abdullah Ad Duwaisyi telah menelusuri kesalahan-kesalahan penafsiran yang ada dalam tafsir karya Sayyid Qutb, yaitu Fi Zhilalil Qur’an lalu membantahnya secara ilmiah.

Berdasarkan uraian di atas, berbagai peristiwa baru tidak boleh digunakan untuk menafsirkan ayat Al Qur’an dalam upaya menjaga jangan sampai ayat Al Qur’an ditafsirkan tidak sebagaimana penafsiran para salaf dan para imam.

(http://ibn-jebreen.com/ftawa.php?view=vmasal&subid=5126&parent=4010)

Sumber: http://ustadzaris.com/menafsirkan-al-quran-dengan-sains, dengan penyesuaian.

Penulis: 'Abdullah Ibn 'Abdirrahman Al Jibrin
Editor: Muhammad Ibn Yusuf Al 'Umari

Ibnu Jibrin

  • 144