27 Dec 2020 01:17

Hukum Bernyanyi dengan Ayat-Ayat al-Qur‘an (7)

Oleh Syaikh Nashir bin Hamd al-Fahd

Bahwa menyanyikan Al Qur’an itu adalah perolok-olokan terhadapnya yang berlapis dari dua sisi:

Sisi Pertama: Bahwa nyanyian itu sendiri adalah lahwun (senda gurau) dan permainan berdasarkan ijma – termasuk menurut kesaksian ahli ilmu yang syadz (memiliki pendapat ganjil) yang membolehkannya yaitu Ibnu Hazm – di mana beliau telah menamakan tulisannya yang membolehkan nyanyian dengan judul (Risalah Fil Ghina Al Mulhi A Mubah Am Mahdhur) – Majmu’ah Rasaail-nya 4/417, di mana beliau menamakannya mulhi (yang melalaikan) sebagaimana yang engkau lihat, sedangkan menyanyikan Al Qur’an adalah menjadikannya sebagai lahwun (gurauan) dan mempermainkannya – wal ‘iyadzu billah -.

Sisi Kedua: Bahwa ulama telah ijma – sebelum muncul pendapat ganjil Ibnu Hazm – terhadap keharaman nyanyian, dan pernyataan mereka dalam hal ini adalah sangat banyak. Dan telah menukil ijma ini banyak ulama, di antaranya: Ibnul Mundzir, Ibnu Abdil Barr, Ibnul Jauziy, Al Qadli ‘Iyadl, Ibnu Qudamah, Ibnu Ash Shalah, An Nawawiy, Al Qurthubiy, Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qayyim, Ibnu Muflih, Ibnu Rajab, Ibnu Hajar Al ‘Asqalani, Ibnu Hajar Al Haitami serta yang lainnya, bahkan lebih dasyat dari hal itu adalah bahwa Al Qadli ‘Iyadl dan Al Kafiy At Tunisiy telah menukil ijma terhadap kekafiran orang yang menghalalkan nyanyian.[3]

Bila saja nyanyian telah datang celaannya dan pengharamannya di dalam Al Kitab, dan Assunnah serta ulama telah ijma terhadapnya, maka sesungguhnya menyanyikan Al Qur’an adalah penambahan penyepelean terhadap pengharaman ini – termasuk andaikata nyanyian itu dilakukan dalam rangka serius dan bukan dalam rangka senda gurau dan permainan -, dan ia itu seperti mengucapkan bismillah saat minum khamr – wal ‘iyadzu billah -, karena sesungguhnya pengucapan basmalah itu adalah disyari’atkan, namun pengucapan basmalah saat meminum khamr adalah pelecehan terhadap Nama Allah subhanahu wa ta’ala yang telah mengharamkan khamr itu, sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian ulama bahwa andaikata seseorang bila meminum khamr dan membaca bismillah atau mengatakannya saat berzina maka dia itu kafir.[4] Di mana ia adalah perolok-olokan dari sisi mempermainkan Al Qur’an dan dari sisi menyepelekan pengharaman.

Sumber: https://islamifaq.wordpress.com/2014/06/02/risalah-hukum-bernyanyi-dengan-menggunakan-al-quran-risalah-fi-hukmil-ghina-bil-quran-2/

ala yang telah mengharamkan khamr itu, sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian ulama bahwa andaikata seseorang bila meminum khamr dan membaca bismillah atau mengatakannya saat berzina maka dia itu kafir.[4] Di mana ia adalah perolok-olokan dari sisi mempermainkan Al Qur