15 Dec 2019 06:18

Berpegang Teguh pada Perkara yang Baku, Kokoh, Jelas, Qath'i, dan Ma'lum minad Din

Oleh Syaikh ‘Athiyyatullah al-Libi

Berpegang teguh dengan perkara-perkara yang baku, kokoh, jelas, dan pasti secara tegas (qath’i) diketahui oleh seluruh umat Islam sebagai bagian dari agama Islam (ma’lum minad din).

Adapun perkara-perkara yang membingungkan seseorang dan perkara-perkara yang kemunculannya membingungkan seseorang (yaitu perkara-perkara yang ia merasa samar, bingung, dan tidak mengetahui jawaban atasnya), maka hendaknya ia tidak tergesa-gesa menjawabnya atau menerima jawabannya dari kaum yang terkena ujian lagi sesat tersebut (Abu Maryam Al Mukhlif dan pengikutnya).
Ia harus sabar dan menunggu sampai mendapatkan kejelasan dan bertanya kepada para ulama yang terpercaya. Jika Allah membukakan baginya ilmu atas perkara yang belum ia ketahui, hilangnya kebingungan dan jelasnya urusan tersebut, maka hendaklah ia memuji Allah Ta’ala. Adapun jika Allah belum mengaruniakan hal itu kepadanya, maka hendaklah ia juga memuji Allah Ta’ala. Karena Allah sesungguhnya Maha Terpuji dalam kondisi apapun, Dia semata yang memiliki hak atas seluruh pujian.

Hendaknya ia bersabar, menyerahkan ilmu perkara tersebut kepada Allah Ta’ala dan mengatakan,
آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا
“Kami mengimaninya karena seluruhnya berasal dari sisi Rabb kami.”
(QS. Ali 'Imran [3]: 7)

Dan hal itu tidak akan membahayakannya. Hendaknya ia mengatakan, “Wahai Allah, seandainya aku mengetahui di mana kebenaran, di mana pendapat yang benar, mana perkara yang Engkau perintahkan dan Engkau cintai, niscaya aku akan memenuhinya, meyakininya, dan melaksanakannya sesuai kadar kemampuanku. Inilah agama, inilah tauhid, Allah tidak akan membebani seseorang, kecuali sesuai kadar yang ia mampu, dan Allah tidak akan membebani seseorang, kecuali sesuai potensi yang Dia karuniakan kepadanya. Allah Ta’ala berfirman,
هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ
“Dialah yang menurunkan Alkitab (Alquran) kepada kamu. Di antara isinya ada ayat-ayat yang muhkamat itulah pokok-pokok isi Alquran dan ada pula yang lain (ayat-ayat) mutasyabihat.
Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah.  Sedangkan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata, "Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari isi Rabb kami." Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.”
(QS. Ali-Imran [3]: 7)”

Sumber: Syaikh Abu Abdurrahman Jamal bin Ibrahim as-Syitwi al-Misrati (Athiyatullah al-Libi), Jawabu Sual fi Jihad ad-Daf’i, (1434 H: Dar al-Jabhah, Al-Jabhah al-I’lamiyah al-Islamiyah al-‘AIamiyah (Global Islamic Media Front), dan  Mimbar at-Tauhid wa al-Jihad), hlm. 46-47.

Penulis: 'Athiyyatullah Al Libbi
Editor: Muhammad Ibn Yusuf Al 'Umar